Ujung Panjang dari Rumah

Sejak kebijakan belajar dari rumah mulai berlaku, saya sebenarnya sudah mengontak beberapa adik kelas. Menanyai mereka: bagaimana kalian belajar di situasi seperti ini?

Ini situasi yang baru. Bukan hanya baru bagi para pelajar, tapi juga bagi para pengajar. Setidaknya, saya ingin menulis apa yang dialami oleh para pelajar. Barangkali ada tips dari mereka, sehingga bisa dibaca sesama pelajar lainnya. Atau mungkin ada keluhan, sehingga bisa dibaca pengajar lainnya sebagai evaluasi.

Draf tulisannya sebenarnya sudah jadi. Tapi, ketika saya tunjukkan ke adik kelas saya itu, ia membalas dengan nada khawatir.

“Nanti aku ketahuan dong kalau ngeluh?”

Sebuah kejadian dua tahun silam kemudian hadir dalam ingatan. Saat kami seangkatan menulis pengalaman kerja praktik kami dalam sebuah blog bersama. Kejadian yang membuat saya urung menerbitkan draf tulisan saya tadi itu.

Lanjutkan membaca “Ujung Panjang dari Rumah”

Jadi Aktivis dari Rumah

Sebagai orang informatika, kerja dari rumah bukan barang baru bagi saya. Bukalapak mengizinkan kami bekerja tidak di kantor beberapa hari dalam sebulan. Beberapa startup lain di Indonesia pun demikian. Bahkan ada yang semua karyawannya memang bekerja tidak di kantor dan tersebar di penjuru dunia, seperti di Automattic dan GitLab.

Beberapa adik kelas saya pernah mengungkapkan keinginannya bekerja di perusahaan seperti itu. Maka saya bilang: kalau ingin coba kerja remote dari kampung halaman di perusahaan besar seperti itu, cobalah mengelola organisasi mahasiswa tidak harus sambil ketemu.

Biasanya, setiap libur kuliah di bulan Februari, para pelajar rantau akan pulang kampung dan kegiatan organisasi praktis berhenti. Padahal, awal tahun biasanya momen kepengurusan baru dimulai. Banyak hal perlu dibicarakan dan disepakati, terutama tentang bagaimana organisasi mahasiswa akan berjalan selama setahun nanti.

Kadang, para pengurus susah berdiskusi di bulan Januari karena ada ujian akhir semester yang mesti dihadapi. Saya bisa mengerti.

Tapi di era teknologi seperti sekarang, mengeluh susah berdiskusi di bulan Februari karena tidak bisa tatap muka, sedangkan chatting dengan sohib setiap hari tetap tanpa jeda? Saya tak lagi bisa paham …

Lanjutkan membaca “Jadi Aktivis dari Rumah”

Tes SIM C Itu (Mungkin) Keliru

Tadi saya sempat mengunggah foto ke media sosial. Dengan lokasi di salah satu kota di Jawa Timur. Salah seorang warganet memprotes. “Kerja, hei. Masih liburan?”

Hehehe. Iya. Masih cuti sampai hari Jumat pekan ini. Sampai Jumat itu pula masih akan di Jawa Timur. Jadi supir AKAP: antar kota dan antar provinsi. Nyambangi keluarga besar yang tersebar di beberapa wilayah.

Saya selalu menikmati jadi supir AKAP. Mengemudikan mobil di dalam kota, apalagi di Cimahi dan Bandung, itu tidak menarik. Macet. Padat. Sumpek. Mepet-mepetan dengan pengendara motor.

Kalau hanya mepet-mepetan masih mending. Kalau pengendara motor itu menyalip di tikungan, ini yang mengesalkan. Apalagi kalau kita — pengemudi mobil — juga sedang berbelok.

Apalagi kalau arah berbelok motor dan mobil ini sama — misalnya, sama-sama belok kiri. Apalagi kalau motor ini menyalip dari sebelah kiri. Asumsi saya, pengendara motor itu pasti belum pernah mengemudikan mobil. Dia tidak tahu kalau:

  1. motornya tepat berada di sebelah mobil, dan
  2. ia menyalip dari sisi yang sama dengan arah mobil berbelok, dan
  3. pengemudi mobil tak menyadari ada motor di sebelahnya,

maka ia berpotensi tinggi terserempet mobil dan jatuh.

Kalau begitu kejadiannya, pasti pengemudi mobil yang disalahkan.

Biasanya kalau terjadi pada saya ketika saya sedang mengemudikan mobil, saya akan menyalakan klakson. Keras. Lama. Sambil melampiaskan kesal. Biasanya, kesalnya jadi reda sesudah suara klaksonnya berhenti.

Lain kejadiannya sore tadi. Kesalnya tak kunjung berhenti. Malah semakin emosi.

Lanjutkan membaca “Tes SIM C Itu (Mungkin) Keliru”

Menulis di WordPress.com

Saya sebenarnya punya blog di saiful.web.id.

Blog itu keren. Setidaknya menurut saya. Alamat webnya tidak pasaran: tidak diakhiri dengan wordpress.com atau blogspot.com, misalnya. Blognya dibuat dengan Hugo, sebuah static site generator. Penyimpanannya memanfaatkan fitur GitHub Pages. CloudFlare digunakan sebagai reverse proxy dan juga melayani DNS. Tampilan blognya dimodifikasi dari tema Hyde buatan Steve Francia.

Berbagai hal teknis yang (menurut saya) keren itu tak diimbangi dengan hal terpenting dari sebuah blog: konten. Blog saya itu sepi. Gersang. Terakhir ditulisi tahun 2016.

Padahal, subjudul blog saya itu mulia sekali. “Karena hidup terakhir seseorang di muka bumi adalah tulisannya.” Kalau kalimat itu mau benar-benar dianggap, artinya hidup terakhir saya di muka bumi itu, ya, tahun 2016 itu.

Salah satu alasan saya pada diri sendiri biasanya: menulis di blog saya satu itu susah.

Loh, padahal keren. Tapi kok susah?

Lanjutkan membaca “Menulis di WordPress.com”

Membuat Garis Lurus di PowerDesigner

Di semester 4 ini salah satu mata kuliah yang saya pelajari adalah Analisis dan Perancangan Perangkat Lunak 1 (APPL-1). Pada mata kuliah ini, kami menggunakan software PowerDesigner untuk membuat use case diagram dan kawan-kawannya.

Salah satu masalah yang muncul adalah ketika membuat asosiasi dari actor ke use case, garis yang muncul tidak bisa lurus. Bentuknya garis patah-patah, seperti ini:

Padahal, notasi yang umum digunakan, garis asosiasi dari actor ke use case itu wujudnya berupa garis lurus.

Lanjutkan membaca “Membuat Garis Lurus di PowerDesigner”

With great power, comes great responsibility

With great power, comes great responsibility.

Setahun lalu, bertanding adik-adik saya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, di OSN 2014. Ada video menarik yang diputar ketika pembukaan OSN di sana; ada dokumenter dua orang alumni OSN dan IOI, yaitu Handayani, salah satu siswa inklusi yang meraih medali perak OSN PKLK 2013 (dan saya bangga pernah bertemu beliau ketika penutupan OSN 2013 lalu), dan Derianto Kusuma, peraih medali emas OSN 2003, co-founder Traveloka.com.

Video tersebut (di atas) saya share di timeline saya di Facebook tanggal 3 September 2014, persis setahun lalu, ketika saya menjadi mahasiswa baru Politeknik Negeri Bandung. Video ini memberi saya motivasi yang cukup besar saat itu, menyadarkan saya kuat-kuat bahwa saya adalah alumni OSN 2013, dan saya berhasil menyisihkan sekian ribu peserta dari level OSK hingga OSP.

Masalahnya bukan saya berhasil menyisihkan mereka; masalahnya bukan saya adalah alumni OSN 2013. Tetapi, masalahnya adalah pertanyaan yang diberikan Derianto di menjelang akhir video,

Kalian perlu bertanya pada hari ini, apakah pantas kalian di sini?

Lanjutkan membaca “With great power, comes great responsibility”

Google Punya Logo Baru!

Pagi ini, saya ingin menambah beberapa fitur di website JTK. Karena widget RSS tidak berfungsi (karena servernya harus melalui proxy supaya bisa tersambung ke Internet—ada yang bisa bantu?), saya kemudian mencari solusinya di Google.

Sebenarnya mulanya biasa saja. Hingga kemudian ketika akan meng-close tab-tab yang ada, saya heran,

“Logo website apa itu?” tanya saya dalam hati.

Lanjutkan membaca “Google Punya Logo Baru!”

Programming?

Apa yang saya senangi? Banyak. Mendengarkan musik, membaca, menulis, sesekali bernyanyi.

Tapi di luar itu semua, ada satu hal yang ketika melakukannya, ada adrenalin yang terpacu, ada nafas yang memburu, ada rasa ingin tahu yang butuh terpuaskan ketika melakukan suatu aktivitas yang disebut programming. Entah itu pada kegiatan-kegiatan competitive programming atau pada kegiatan programming yang normal.

Lanjutkan membaca “Programming?”

Lifecycle Sebuah Windows App

Dalam merancang sebuah Windows App, kita perlu tahu bagaimana sebuah aplikasi “menjalani kehidupannya”, karena skema hidup Windows App sedikit berbeda dengan aplikasi desktop pada umumnya. Dengan memperhatikan lifecycle sebuah aplikasi, kita bisa menghadirkan user experience yang nyaman bagi pengguna App kita.

Secara umum, lifecycle (daur hidup) sebuah Windows App bisa digambarkan dengan state-diagram berikut 1:

Lanjutkan membaca “Lifecycle Sebuah Windows App”