Sahabat pena

Sahabat pena.

Dulu, waktu saya masih SD, saya pernah membaca istilah ini. (Kalau tidak salah dari majalah Bobo. Ya Tuhan, berkahilah para redaktur majalah Bobo atas pengetahuan yang mereka beri pada kami generasi 90-an ini.)

Sahabat pena. Sejak saya memasuki dunia SMP hingga sekarang berstatus pengangguran alumni SMA ini, saya benar-benar tak pernah mendengar lagi istilah ”sahabat pena”. Persis ketika saya mulai mengenal Friendster dan Facebook pada masa itu, dan saat saya mulai mengenal WordPress waktu kelas 4 SD dulu.

Saya sendiri tidak pernah memiliki sahabat pena, tidak pernah berkirim surat sebelumnya. Saya lebih dahulu mengenal GMail versi beta (yang dulu invitation-only dan undangannya saya dapat dari mahasiswi yang PKL di kantor ayah). Saya lebih dahulu mengirim surat elektronik daripada surat yang ditulistangan sendiri.

Makanya, ketika adik kelas saya di SMA, Yume, mengirimkan ide berikut ini di grup salah satu komunitas penulis, saya langsung excited untuk mengikutsertakan diri …

[…] Semuanya pasti tau istilah ‘sahabat pena’ kan? Mungkin sekarang enggak terlalu dipakai karena kalau mau kenalan sudah ada sosmed. Nah, saya pengennya sesama author FFn ada ajang ‘sahabat pena’, bukan lewat internet, tapi beneran nulis surat. Lumayan, ngepoin tulisan tangan author lain. //plak Ada yang sepemikiran dengan saya? ^^a terima kasih~

Setelah bertahun-tahun, akhirnya saya membaca kembali istilah “sahabat pena”.

Saya belum pernah memiliki sahabat pena. Saya belum pernah berkirim surat secara tradisional — menulis surat, dimasukkan ke amplop, membeli perangko, lalu dikirim lewat kantor pos — nope, saya belum pernah sama sekali. Sebelum ini, alih-alih demikian, kenapa tidak buka saja profil Facebook yang akan dituju, lalu kirim message? Atau mention langsung di Twitter? Chat di Google Hangout atau di LINE? Atau kalau perlu panjang dan resmi, lewat e-mail?

Sesekalinya saya menulis surat, adalah surat-surat perizinan dan surat-surat edaran ke orang tua siswa di Pramuka dan di ekstrakurikuler IT 😀

(Dan baru tersadar: Yahoo Messenger sudah jarang sekali digunakan. WhatsApp juga sepertinya mulai ditinggalkan di inner circle saya. KakaoTalk hanya diinstal untuk mendapat promo-promo saja dari admin.)

"Sebentar, anak-anak ... bapak jatuh ..." Foto ini menyebar viral sekali ketika pengumuman kelulusan. :))

Jadi saya sign-up di tawaran Yume itu, dan dimasukkan ke group chat untuk mendiskusikan teknisnya. Ya, anak zaman sekarang, bahkan untuk berkirim surat, dikoordinasikan dulu lewat Facebook Chat. XD

Singkat cerita, dapatlah saya dua orang untuk dikirimi surat. Satu orang dari Malang dan satu orang dari Pagaralam, Sumatera Selatan. Malam itu juga, saya langsung tuliskan surat untuk mereka berdua. (Mengenai ini akan saya tulis di artikel lain.)

Mengenai sahabat pena ini saya jadi teringat bahwa pernah ada lagu tentang sahabat pena. Ternyata benar ada. Saya menemukan versi yang dinyanyikan Boy Sandi:

Seminggu kini telah lalu
Ku tahu kau menunggu
Jawaban melalui
Kata kata pena
Bersama amplop biru
Wajah yang manis di fotomu
Sabarlah kawan
Suratku kan datang
Kepadamu

Kusimak fotomu lekat lekat
Seluruh di wajahmu
Terpancar di matamu
Hati yang murni
Tergetar diriku ini
Ketika memegang pena
Untukmu kawan
Kutuliskan puisiku

Sahabat pena …
Sahabat pena
Datanglah bayang bayangmu
Sahabat pena
Aku cinta padamu
Kepadamu …
Hm … hm … hm …

Kuharapkan pada rembulan
Dan bintang yang bersinar
Menunggu jawaban
Cinta dari dirinya

Saya penasaran, akan berjalan seperti apa proyek Yume kali ini?

Seberapa konsisten kami akan berkirim surat?

Atau jangan-jangan pak pos yang menghentikan hubungan kami? #halah

[1] Sumber posting Yume bisa dilihat di sini: https://www.facebook.com/groups/fanfictionworld/740519202657207/?notif_t=group_activity. Terakhir dibuka tanggal 9 Juni 2014.

Comments

comments powered by Disqus