Arti “Minal ‘Aidin wal Faizin” Bukanlah “Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Hari ini Twitter ramai dengan tweeps yang mengucapkan permohonan maaf-nya kepada sesama. Kebanyakan dari mereka mengucapkan, “Minal ‘aidin wal faizin…”


Sering kita baca ucapan, “Selamat hari raya Idul Fitri, taqabbalallahu minnaa wa minkum, minal ‘aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin” menjelang atau saat hari raya Idul Fitri. Ada dua bahasa Arab yang terdapat pada ucapan tadi, yaitu pada kalimat kedua dan ketiga.

Banyak orang juga hanya mengucapkan minal ‘aidzin wal faidzin untuk meminta maaf. Benarkah artinya demikian?

Para sahabat Rasulullah saw. biasa mengucapkan kalimat “Taqabbalallahu minnaa wa minkum” di antara mereka. Artinya, “Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian,” yang maksudnya, “Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua di bulan Ramadhan”. Biasanya, para sahabat juga menambahkan “shiyamana wa shiyamakum”, yang artinya, “Semoga juga puasaku dan puasa kalian diterima.”

Jadi, ucapan di atas memang biasa diucapkan para sahabat Rasulullah saw.

Lalu bagaimana dengan kalimat “minal ‘aidin wal faizin”?

Menurut Quraish Shihab, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin(penulisan yang benar seperti itu, bukan faidzin/faidhin/faidin atau aidzin/aidhin/aizin). ‘Aidin sama akar katanya dengan Idul Fitri. ‘Id artinya kembali, yaitu sesuatu yang berulang, atau dengan kata lain perayaan setiap tahun. Al-Fitr, artinya berbuka, tidak lagi berpuasa sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri adalah “hari raya berbuka” dan ‘aidin adalah para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali.

Faizin berasal dari fawz, artinya kemenangan. Maka faizin adalah orang-orang yang menang. Menang mendapatkan ridha, ampunan, dan surga-Nya. Kata min pada minaladalah menunjukkan bagian dari sesuatu.

Nah, ada satu kata yang seharusnya ditambah di depan kalimat ini, yaitu ja’alanallaahu(semoga Allah menjadikan kita). Jadi, selengkapnya kata (ja’alanallaahuminal ‘aidin wal faizin, yang artinya (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (pada kesucian dan ketaqwaan) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah).

Wallaahu a’lam bish-shawaab.

(Sumber: http://blog.al-habib.info/id/arti-minal-aidin-wal-faizin-bukan-mohon-maaf-lahir-batin/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *