Fiction Competition di Gomu-gomu no Matsuri IV: Neko Matsuri

Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh panitia Gomu-gomu no Matsuri IV: Neko Matsuri untuk jadi juri di Fiction Competition mereka. Gomu-gomu no Matsuri sendiri adalah event tahunannya ekstrakurikuler Ni Nihon-go no Kurabu di SMA Negeri 2 Bandung.

Kompetisinya sederhana: buatlah sebuah cerpen dengan tema matsuri (festival) atau neko (kucing). Dengan persyaratan yang sederhana, akhirnya ada enam orang yang menyelesaikan naskahnya dari delapan orang yang mendaftarkan diri. Penjuriannya sendiri enjoyable bagi saya dan merupakan pengalaman pertama saya menjadi juri di kompetisi terbuka 🙂

Selain saya sendiri, masih ada tiga orang lainnya yang menjadi juri. Masing-masing dari kami memiliki gaya dan aturan tersendiri dalam menilai cerpen. Beberapa fokus pada storyline, dan saya sendiri lebih menitikberatkan pada kemampuan berbahasa (meskipun saya belum se-perfect itu dalam berbahasa).

Dalam penjurian saya, ada enam aspek yang dinilai:

  1. Kesesuaian dengan tema. Ini penting: apakah cerpen yang dibuat benar-benar bertemakan sesuai ketentuan, ataukah hanya sekadar menuliskan matsuri atau neko sebagai syarat. Misalkan, sebuah cerita yang semua tokohnya adalah kucing, tapi tidak mencirikan kucing (bahkan cerpen tersebut masih nyambung dibaca ketika semua kata “kucing” diganti menjadi “jerapah”, contohnya). Personifikasi diperbolehkan, tapi bukan berarti seekor kucing mampu melompat seperti tradisi lompat batu di Pulau Nias. 😀

  2. Kelengkapan aspek formal cerpen. Unsur sepele seperti judul cerpen dan nama pengarang tidak boleh terlupakan. (Bukan berarti karena saya memiliki data pendaftar, lalu peserta boleh begitu saja langsung menulis ceritanya di atas kertas. Identity is a must!) Sebagaimana cerpen pada umumnya, cerpen yang dikirimkan juga harus memiliki narasi dan dialog — yang ini you don’t say sih.

  3. Kelengkapan unsur intrinsik cerpen. Sebuah cerpen setidaknya harus memiliki fakta cerita (plot, tokoh, dan latar), memiliki sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, gaya bahasa, simbolisme, dan/atau ironi), dan memiliki pengembangan tema yang relevan dengan ketentuan. Dalam menuliskan fakta cerita, buatlah fakta yang meaningful (bukan seperti “Ibuku orang Eropa, ayahku orang Amerika” tapi nggak berpengaruh apapun terhadap cerita dan akan membuat pembaca berkata, “apa sih ini?” Kecuali jika kemudian dijelaskan, “itulah alasan kenapa aku tidak mahir berbahasa Indonesia,” itu lain cerita. 🙂

  4. Keterpaduan unsur/struktur cerpen. Sebuah cerpen baiknya disusun dengan memperhatikan kaidah plot cerita (unsur kelogisan, unsur rasa ingin tahu, kejutan, dan keutuhan) dan penahapan plot (awal/ tengah/ akhir, pengenalan/ konflik/ penyelesaian). Masing-masing tokoh juga diharapkan memiliki dimensinya (fisiologis, sosiologis, dan psikologis) serta memiliki dimensi latar (baik latar tempat, waktu, ataupun sosial).

  5. Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen. Keajekan penulisan, ragam bahasa yang dipergunakan dengan latarnya, serta kaidah EYD diperhatikan.

  6. Pembunuh massal dalam kriteria penilaian, kesalahan penulisan (typo, ketidaksesuaian penempatan tanda baca, redundansi diksi, dsb). Dua kata bergabung tanpa spasi, coret. Tidak ada tanda baca sebelum tanda kutipan diakhiri, coret. Konsistensi juga diperhatikan (bila seluruh istilah asing dimiringkan pada tiga halaman pertama, tapi di halaman selanjutnya tidak dimiringkan, semua yang tidak dimiringkan dianggap salah.)

Tradisi lompat batu di Pulau Nias. Nggak semua kucing bisa seperti ini.

Satu lagi! Kami sangat menyukai cerpen dengan tata letak yang rapi. Hal ini sangat memudahkan kami untuk membaca, menilai, dan menikmati karya yang dikumpulkan. (Bahkan ada seorang peserta yang rela menjilid terlebih dahulu cerpennya sebelum dikumpulkan. Really appreciate it. :‘) )

Semua cerpen yang dikirimkan memiliki storyline yang bagus. Beberapa cerpen bahkan dapat membuat saya senyum-senyum sendiri, nyaris berteriak kegirangan, atau menutup mulut kami yang tidak tertutup rapat — semua karena cara penulisan yang menarik dan membuat kami merasa seperti sedang menjalani storyline yang diatur penulis.

Meski demikian, tidak semua cerita yang menarik selalu sesuai dengan kriteria penilaian. (Analoginya: sebuah cerpen kelas dunia tidak dapat begitu saja diberikan nilai tertinggi hanya karena sang tokoh utama memelihara seekor kucing dan kemudian mereka datang ke sebuah matsuri.)

Namun, penilaian aspek terakhir yang disebutkan di atas selalu menjadi pembunuh massal. Ya, kesalahan penulisan (typo, ketidaksesuaian penempatan tanda baca, redundansi diksi, dsb). Inilah nilai penentu dari penjurian saya (karena ada dua cerpen yang mendapatkan nilai perfect di aspek lainnya).

Nilai aspek ini diambil dengan menggunakan perhitungan:

$$(1 - \frac{2 \times \textrm{Jumlah kesalahan dalam cerpen}}{\textrm{Jumlah kata dalam cerpen}}) \times 100$$

(Yep, you guess it right. Nilai minus dimungkinkan dalam aspek ini. Makanya saya katakan bahwa ini adalah pembunuh massal 😈)

Dari hasil perhitungan ini, saya berikan gambaran nilai dari enam peserta:

  1. 97,77
  2. 97,19
  3. 96,04
  4. 88,66
  5. 86,70
  6. 55,22

Dalam menghitung kesalahan cerpen, saya melihat sebuah fenomena yang umum terjadi dari hampir semua peserta, dan sebenarnya merupakan masalah teknis: ketika dokumen yang dibuat di Microsoft Word 2010 atau Microsoft Word 2013 dicetak menggunakan Microsoft Word 2007 yang belum  ter-update.

Masalah teknis ini merupakan masalah yang mungkin umum dijumpai bagi para siswa/mahasiswa yang sering mencetak dokumen di komputer lain (misal, komputer warnet, atau komputer di pusat percetakan): spasi yang selalu menghilang di hampir setiap kata yang ada.

Sebenarnya solusinya sederhana: simpan dahulu file tersebut dalam format Microsoft Word 97-2003 sebelum mencetaknya di Microsoft Office 2007. Jika terlanjur disimpan dalam format yang baru, pastikan dokumen dibaca ulang untuk memastikan semua spasi berada pada tempatnya 🙂

Pada akhirnya, saya mengucapkan selamat bagi tiga pemenang dalam kompetisi ini:

  1. Bella Nur Handayani dari SMAN 19 Bandung dengan cerpen Fall;
  2. Mirani Rachmatika Basuki dari SMAN 19 Bandung dengan cerpen Answer;
  3. Tina Ratnaputri Waluya dari SMAN 20 Bandung dengan cerpen Because of Taiikukan.

Outstanding achievement-nya adalah, ketiga cerpen di atas merupakan finalis yang sama dari seluruh juri fiction competition ini. Selamat! 👍👍👍

Saya pribadi cukup senang melakukan penjurian kali ini. Banyak hal yang dapat saya jadikan catatan bagi diri sendiri dalam menulis cerita karena kompetisi ini. Senang juga melihat dan membaca karya-karya yang dikirimkan, and it is a pleasure for me to read your story as a reader 🙂

Gambar lompat batu diambil dari Wonderful Indonesia.

Comments

comments powered by Disqus