Ditulis oleh . Lihat tulisan lainnya →

Ujung Panjang dari Rumah

March 29, 2020

Sejak kebijakan belajar dari rumah mulai berlaku, saya sebenarnya sudah mengontak beberapa adik kelas. Menanyai mereka: bagaimana kalian belajar di situasi seperti ini?

Ini situasi yang baru. Bukan hanya baru bagi para pelajar, tapi juga bagi para pengajar. Setidaknya, saya ingin menulis apa yang dialami oleh para pelajar. Barangkali ada tips dari mereka, sehingga bisa dibaca sesama pelajar lainnya. Atau mungkin ada keluhan, sehingga bisa dibaca pengajar lainnya sebagai evaluasi.

Draf tulisannya sebenarnya sudah jadi. Tapi, ketika saya tunjukkan ke adik kelas saya itu, ia membalas dengan nada khawatir.

“Nanti aku ketahuan dong kalau ngeluh?”

Sebuah kejadian dua tahun silam kemudian hadir dalam ingatan. Saat kami seangkatan menulis pengalaman kerja praktik kami dalam sebuah blog bersama. Kejadian yang membuat saya urung menerbitkan draf tulisan saya tadi itu.

Kejadiannya sangat sepele menurut saya. Salah satu di antara kami menulis pengalamannya datang ke kantor di hari pertama. Ia mengira panitia kampus sudah menghubungi perusahaan tujuan, tapi ternyata perusahaan tujuan belum tahu bahwa rekan kami ini akan datang. Untungnya perusahaan tujuan ini sedang mengadakan acara buka bersama, sehingga suasana tidak menjadi canggung. Suasana akrab pun justru terbangun.

Sialnya, ia mengawali paragrafnya menulis pengalaman tadi dengan kata pertama kalimat ini.

Sebuah kata yang akhirnya berbuntut panjang: panitia kampus tak terima dengan kata itu dan meninggalkan komentar cukup panjang di tulisannya.

Saya sebenarnya tidak takut mempublikasikan draf tulisan tadi. Toh, saya juga “bukan siapa-siapa”. Dibaca beberapa kali, draf tulisan saya harusnya tidak mengada-ada. Fakta.

Bahkan, di Twitter sudah ramai ditulis banyak orang: musim “belajar di rumah” ini kenyataannya lebih mirip “mengerjakan PR di rumah selama beberapa pekan” daripada “belajar dibimbing oleh pengajar”.

Toh, bagian itupun di draf saya hanya berupa satu kalimat kutipan sederhana.

Toh, di draf yang sama, justru ada nilai positif: ada lho pelajar yang jadi berani bertanya lewat media online, ketika ia takut bertanya ke pengajar yang sama di dalam ruang kelas.

Tapi siapa yang tahu kalau ternyata nanti kalimat itu berujung panjang? Celakanya, bagaimana kalau berujung panjang bukan bagi saya, tapi bagi adik kelas yang saya kutip tulisannya itu?

Baiklah. Draf itu ditunda saja.

Hingga banyak orang bisa menerima perspektif lain dengan lebih legowo.

Mungkin puluhan tahun lagi.

comments powered by Disqus